Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kumpulan puisi. Tampilkan semua postingan

perauh kelebu


CINTA SEMUSIM

kusangka cinta berhenti mengembara
kiraku cinta telah menunjuk satu arah
meniti langkah menuju dermaga
menanti kapal layar menuju laut lepas
memenuhi rindu yang lama membekas

angin utara berhembus terlalu cepat
saat nakhoda belum siap bermain dengan ombak
tiang layar terlalu rapuh untuk tak patah

kami terasing di pulau serba asing
sebagai orang asing di tengah orang asing
berguru menati-nati langkah
agar selamat hidup dalam cinta

belumlah genap menegakkan tiang ramah
menuai benih cinta yang telah tersemai
langit telah mengangkat air laut
hanyutkan kami menuju pulau baru
pada rindu yang lama ingin dituju

Perauh kelebu
Alex Brawijaya dkk
Rp 29rb
silakan pesan ke 081914032201

catatan perempuan


CATATAN HATI UNTUK 'CATATAN PEREMPUAN' BERNAMA SERUNI
Oleh; Sofyan RH. Zaid*

Perjuangan melawan lupa; perjuangan yang paling berat, kata Octavia
Paz. Saya pun tak ingat tepatnya kapan mengenal penyair perempuan yang
satu ini. mungkin dari saking lamanya waktu, sampai menghapus
ingatanku. Hanya ada satu hal yang terus kuingat tentang Seruni; Dia
Lahir di kota Bengawan,17 April. suka corat-coret sajak sejak sebuah
even lomba cipta & baca puisi yang kemudian memilihnya jadi pemenang
ketiga. Selain itu, sebuah radio swasta di kotanya sempat memberinya
mandat memandu acara Semerbak Sajak selama sekian bulan. Media cetak
dan elektronik,kerap memuat sajak-sajaknya, juga tergabung dalam buku
antologi bersama; Lilin-lilin Legian, 2004, Ibu, 2009, dan lain-lain.
Saat ini Seruni terus aktif menulis Di sela kesibukanya bekerja dan
merampungkan study-nya di Universitas Terbuka yang pernah
terbengkalai.

Salah satu hal penting yang mesti saya catat kemudian adalah terbitnya
antologi tunggal Seruni, yakni Catatan Perempuan. Apa pun kata
kritikus atau teman-teman penyair lain, saya tak hirau. Intinya Seruni
telah berani melakukan sesuatu yang menjadi impian sejak lama dan
tercapai. Maka saya ucapkan: Selamat...

Membaca sajak-sajak Seruni dalam Catatan Perempuan ini, saya jadi
ingat tanya seorang kawan; penyair di indonesia lebih banyak
laki-laki, kemana perempuannya? Maka sekarang saya baru temuka
jawabannya; Seruni ini salah satunya!

Tanpa maksud menghakimi atau pun menilai; jujur saya menyukai
sajak-sajaknya yang sederhana tetapi sangat kuat emosi yang terkandung
di dalamnya. Artinya seruni, tak berjuang mati-matian memperelok kata
dalam menulis sajak yang kemudian hampa makna dan emosi, melainkan dia
benar-benar mencoba semaksimal mungkin mencari kata yang tepat untuk
mewakili apa yang mau dituliskan jadi puisi. nah, Seruni sangat
berhasil dalam ini. Meski kemudian sajak-sajaknya nyaris tanpa gaya
bahasa. Atau dengan kata lain, sajak Seruni bagai perempuan cantik
tanpa kosmetik. Dia tengah tidak berbohong dalam menyajak.

Coba kita simak misalnya sajak Em Pe;
...
: ditubuhmu
tubuhku
hingga tak lagi
ada penghalang,
mengecup ranum cuaca
dikedalaman gelap,
surga untuk kita
...

atau juga sajak Seperti Cecak, pada bait terakhir;

aku dan bulan
saling menikam
saling
bergantungan

kemudian pada sajak Hang Out;

menasbih kehangatan
pada kebebasan fana
episode waktu yang menganga
... dan kita hanya pengembara

Dari semua sajak yang saya kutip di atas, jelas Seruni penuh
kejujuran dalam menuliskan sajaknya, tetapi rasanya sangat sedap. Bila
Seruni mampu mempertahankan karakternya ini, maka Seruni mewarisi
persajakan ala Indonesia, bukan barat yang terkesan hanya pada
permainan kata dan keelokan bahasa saja.

Dan sampai catatan ini berakhir, saya pun tetap lupa; kapan tepatnya
kenal Seruni, meski sajak-sajaknya semakin akrab dengan saya.
Salam...

Jakarta, 07 Maret 2011

* Adalah Penyair, kini mengasuh Paramadina Poetry Club, Jakarta

Judul: Catatan Perempuan
Penulis: Seruni
Penerbit : Arias
silakan pesan via sms ke 081914032201
tulis nama/alamat/judul buku yg dipesan

Mediasi Prilaku


Rekah Merekah Sedekah


kudengar rintih membisik usik
jeritan batin para pencari hati
bagaimanakah teriakan ini kuterjemahkan?
hingga terurai lengkap ungkap imajinasi kata-kata memelas

kau merintih pada batas persimpangan
antara lapar dan kenyang
antara dahaga dan lega
antara kuat dan lemah
antara mimpi dan harapan
dukamu mengetuk
jiwa-jiwa bergema menelusuri kuasa
diri atas yang maha
dan akhirnya, kutemukan hawa

kubergolak membungkam rasa
lalu kuketuk kekakuan rasa
biar lentur memahami suasana
atas “rekah” yang mengharap “berkah”

terima kasih sobat…………..karena bisikmu tlah mengetuk kebungkaman dan keberpalinganku atas kuasa-nya….


Judul : Mediasi Prilaku
Kumpulan Puisi
Penulis: Amin Mulyanto
Penerbit: Arias
60 hlmn
Rp 24rb

Rumah Bernomor Nol



Anak Cinta dengan Seribu Luka

Rumah kebersamaan sempat kita tinggali sesaat
Setelah itu, aku pergi sendirian ke pengasingan
Sebab, kebersamaan pun tak bisa sembuhkan
luka masing-masing
Saat itu, kau masih mungil untuk menggambar
jawaban tentang pertemuan dan perpisahan

Waktu berlari menyisakan luka bagimu
Serupa pisau mengerat bambu
dalam ruas-ruas ingatan yang sulit terbaca
hanya jejak-jejak seribu luka yang ada
Ingin kubalut lukamu dengan perban kerinduan
berplesterkan kasih sayang. Tidak di rumahmu
cukup dalam kamar hatiku. Tidak sekarang
mungkin saja nanti

Judul: Rumah Bernomor Nol
Penulis: Ari Hidayat
Penerbit: Arias

Silakan pesan via sms 081914032201 atau email hasfriends57@gmail.com
Tulis nama/alamat/judul buku yg dipesan

tirakat padam api




AKULAH SENANDUNG

akulah sang kidung
dalam sunyi tak bertepi

diantara ilalang dibukit gersang
berteman kunang kunang dan belalang

aku lah pencinta aksara
nyaris di tiap hela jiwa

akulah senandung yang redup
kidungku seperti pelita diujung katup

akulah kesunyian dalam ruas jiwa
kesunyian dalam bingkai seroja jingga


Tirakat Padam Api
Kumpulan Puisi
penulis: Emi Suyanti
penerbit: Arias
86 hlmn
Rp 26rb
silakan pesan via sms 081914032201

Senandung Rindu Kamar Pengap



Senandung Rindu Kamar Pengap
kumpulan puisi
penulis :ALAM
penerbit: Arias
164 hlmn
Rp. 35rb
silakan pesan via sms ke 081914032201.

kado dari rantau



DARI BALIK HUJAN
Dari balik hujan kutatap kepergianmu yang jauh
sementara bias kilat dari langit mencoba mengabadikan
kelebat dari setiap langkah

...binatang malampun enggan berkikik
memilih diam dalam hangatnya sarang
bersama pasangan
begitupun aku yang diam. Beku
bagai berselimut salju kelu
tak mampu lagi kucegah kepergianmu
aku memilih diam
ya...diam
dibalik hati yang kian mengkaram

benih yang terlanjur kusemai kini mulai mengering
karna tak ada seorang yang mampu merawatnya
sepertimu
benih yang tumbuh hanya mampu
menjadi kecambah angan. Kosong

duhai...
siapakah gerangan yang akan hadir kembali
menyirami benih dalam hati
hingga kelak putik bersemi

sementara aku tetap mematung
menatap kepergianmu dari balik hujan



Kado Dari Rantau
Kumpulan Puisi
Muchlis Darma Putra
silakan pesan via sms ke 081914032201
tulis nama/alamat/judul buku yg dipesan

SELIA


Selia barangkali hanya sebuah nama. Tapi Selia dalam puisi-puisi Mahmud Jauhari Ali, telah membentangkan sebuah dunia yang penuh kegamangan, kemurungan, dan ketidakpastian. Jika kumpulan puisi ini adalah sungai, maka Selia adalah perahu yang mengajak pembaca untuk berlayar melintasi kedalaman air, --yang tampak tenang, tapi menyimpan marabahaya. Seperti puisi Chairil Anwar untuk gadis Sri Ayati, maka Selia yang banyak disebut dalam puisi-puisi ini, telah menjelma keindahan pedih yang pantas untuk direnungkan.
(Hanna Fransisca, Penyair, Tokoh Sastra Pilihan Majalah Tempo 2010)

Terbit di Hasfa Arias!
Selia karya Mahmud Jauhari Ali
ISBN 978-602-98738-3-2
Rp 25rb
Silakan pesan via sms 081914032201
tulis nama/alamat/jumlah/judul buku yg dipesan.

Bercanda di Bawah Rembulan


Relaxing Aromatic
Menjaga dan merawat cantiknya cinta agar tetap sehat,
sehingga menyenangkan untuk disentuh…

Dapatkan sensasi aroma menenangkan dan rasa lembut pada hati Anda. Formula dengan nuansa kata sensasional “Cinta” yang lembut menyentuh, memberikan relaksasi dalam perasaan Anda, penuh sensasi yang menenangkan.

Judul :Bercanda di Bawah Rembulan
Penulis:Tubagus Rangga Al-Bantani
Penerbit: Arias

silakan pesan via inbox fb hasfapublisher/ sms 081914032201
tulis nama/alamat/jmlh/judul buku yg dipesan.

mata yola


ULASAN MATA YOLA DARI M TAUFAN

Dari Puisi ke Aksi
---Sebuah Pengantar
Oleh M Taufan
...
An Nifari, dalam Al Mawaqif Al Mukhathabat, menulis puisinya dimulai dari rasa merdeka jiwanya terhadap dunia. Menulis puisi berarti membangun posisi yang menentang arus pengetahuan. Sebuah katarsis, yang memunculkan kredo. Semacam transendensi kepada struktur baru, mengenai bentuk penciptaan prinsip berpuisi. Maka pada posisi ini, penyair betul-betul mandiri.
Puisi tak pernah lepas dari dua pendekatan, kontemplatif dan konseptis. Sang pencinta aksiden, Sutardji Calzoum Bahri, puisi-puisinya, meskipun lekat dengan mantra, yang seolah-olah anti intelektual itu tak dapat dilepaskan dari kredonya: jika puisi adalah kursi, maka ia bukan tempat duduk, melainkan kursi itu sendiri.
Bagi Sutardji, puisi tak lain adalah cara pengucapan. Maka dalam hal ini ia memilih puisi sebagai mantra. Al Mukhathabat, tak lain adalah cara pengucapan itu. Oleh karenanya konsep menulis puisi tak pernah lepas dari kerja kontemplatifnya sang penyair.
Ada baiknya memang kontemplasi ditujukan kepada penciptaan konsep-konsep baru dalam berpuisi, baru setelah itu memikirkan bagaimana cara pengucapannya, diksi-diksi yang digulirkannya, dan secara otomatis penampilan puisi akan dipengaruhi konsep-konsep yang diyakininya.
Bisa jadi sangat sedikit penyair-penyair yang kontemplasinya diarahkan kepada konsep-konsep penulisan puisi. Kontemplasi sering diarahkan pada bahasa apa yang akan dibangun dalam menulis puisi, sehingga proses berpuisi semata-mata memindahkan kejadian atau apa-apa yang dicemaskan kedalam kertas. Hasilnya puisi tak sama sekali membangun orisinalitas.
Bentuk diksi bisa jadi sama, apa yang dibicarakan juga demikian, tapi konsepnya akan membantu puisi-puisinya hadir sebagai ruang perenungan, karena ia akan membicarakan sebuah struktur yang menceritakan hakikatnya sebuah puisi itu berdiri. Sebuah kelindan kehampaan yang mampat mendesak kediriannya.
Misalkan puisi-puisi An Nifari sendiri, cara pengucapan yang mirip sebagai puisi wahyu, yang nampak menyesatkan itu,

Hai Hamba
Cukupkanlah hanya dengan-Ku
Akan kau lihat fakirnya segala sesuatu

Proses sampai pada puisi itu, adalah upayanya dalam membangun hubungan yang mesra dengan Yang Maha Kuasa. Sehingga dimatanya dunia beserta pengetahuan tentangnya hanya semata-semata buih dilautan, meretas lalu pecah. Maka di depannya ia ada, sebagai pertanda kemandirian, yang lepas dari cengkraman dunia, yang lepas dari penjajahan ilmu pengetahuan.
Prinsip Al Mawaqif, yang berdasar kepada kata dasar Waqfah, atau positioning, itulah sebagai pertanda merasuknya kekuatan Ilahi padanya, yang berkuasa atas dunia sebagai kritik terhadap manusia modern yang terkuasai oleh dunia.
Waqfah sendiri dikatakan Nifari sebagai api yang melalap tubuh. Setara dengan apa yang dikatakan Foucault tentang kehendak mengetahui segala sesuatu, bergeraklah dua arah, tentang gaung keabadian dan tentang bergulirnya kreatifitas. Waktu “mengada” dalam imaji kreatif menggerus umur, maka setiap “ada” adalah bentuk kearah keabadian. Keabadian selalu sinergi dengan waktu kreatif, semestinya.


Cara Pembacaan

Membaca buku buah karya penyair ini harus dimulai dari sana. Puisi pendeknya bermula pada konsep yang merupakan tanda kerja kontemplasinya, baru kita akan membacanya bagaimana cara pengucapannya, sebuah ruang yang mewahadi tentang hakikat yang dialami Sang Penyair.
Bisa jadi Penyair di sini memiliki konsep tersendiri, maka setiap penyair biasanya seorang esais, seorang konseptologis yang mampu merepresentasikan maksud struktur dari karya-karyanya, sebab puisi-puisi pendek bukan baru-baru ini kita nikmati, ada puisi-puisi pendek Efri Tsaqib dalam Ruang Lengang, atau puisi gaya patah-patah milik Afrizal Malna, beranjak ke barat kita mendapatkan aforisme Nietzsche atau haiku di Jepang.
Yoyong harus bertanggung jawab atas struktur puisinya. Sebab puisi adalah seni murni, seni yang lebih membutuhkan diskursus, ketimbang euforia penerbitan buku. Mesti dijelaskan tentang esensi estetiknya, bukan makna bahasa yang terkandung dalam diksinya. Membaca makna di jaman penafsiran destruktif menjadi hanya basa-basi, maka puisi harus mulai dibicarakan melalui konsep strukturnya yang lebih bernilai estetik.
Menurut saya puisi-puisi pendek adalah bentuk penyadaran, bahwa bahasa bagaimanapun panjangnya tak dapat menampung apa yang ingin dibicarakan. Bahasa terlalu sempit dan pendek untuk menampung apa yang diinginkan hakikat. Itu yang pertama.
Selanjutnya, penyair sadar, puisi tak pernah minta diselesaikan dan tak pernah selesai. Maka puisi adalah jalinan transendensi ke strukturnya, ia adalah semacam mandala, yang menganga lubang kosong menuju sisi eksoternya.
Meminjam istilah Kuntowijoyo tentang strukturalisme transenden, puisi mengatur dirinya sendiri, membuat dirinya selalu ada dalam setiap jaman, melalui setiap pembacaannya. Bentuknya akan selalu sama, penafsiran dari jaman ke jamannya akan berubah.
Puisi semacam reproduksi atomik, yang merupakan ruang hela bagi kausalitas yang membosankan. Di dalamnya tak pernah terlintas tentang pertanyaan, lebih dulu mana, ayam atau telor?. Tetapi ia adalah sebuah simbol sentral tentang keabadian yang dikelilingi sang ada, yang terus bereproduksi karenanya.
Puisi berpeluang memberi kekuatan kepada setiap aktifitas manusia, berpotensi memberi ruh terhadap gerak manusia. Segala penulisan puisi, yang tak pernah selesai itu akan segera diselesaikan kepada aksi, segala pembacaan terhadap absurditas puisi, adalah penyelaman lautan kehidupan, sehingga puisi memberi inspirasi.
Kelindan transendensi ruh kepada eksoternya, adalah pernyataan bahwa keabadian akan selalu membawa manusia memenuhi kebutuhan dirinya secara sosial, politis, religius dan ekonomis melalui pembacaan masing-masing.
Lihat misalnya puisi tentang swalayan,

mimpi-mimpi terpajang
di etalase kaca

Apa yang harus dilakukan tentang itu semua sebagai pembaca, bukan sekedar mengatasi mimpi untuk dirinya sendiri. Tapi ia Politis karena mimpi adalah rasa sakit kaum tertindas, yang musti di selesaikan melalui kesadaran organis, supaya mampu bermanuver terhadap kekuasaan yang menindas.
Ekonomis karena selama ini putaran uang masih terus berputar dikalangan atas, sistem pasar modern selalu menarik uang langsung ke pusat, berbeda dengan sektor ril yang memutarkan uang di pinggiran. Membeli rokok di sebuah kios akan memutarkan uang di toko kelontongan ke grosir ke pasar basah, sektor ril selalu memutarkan roda ekonomi lebih dasyat ketimbang sistem pasar modern.
Religius karena ia mendorong kesadaran kolektif untuk menyelesaikan rasa tertindas itu.
Dus, puisi dalam hal ini adalah abstraksi bagi pembicaraan-pembicaraan tentang realitas yang melingkupinya secara terus menerus. Puisi bukan asimetris terhadap aksi, apapun bentuknya, meski hendak dibilang bahwa ia adalah estetika tanpa keterjajahan dari pada pesannya.
Bukankah kemandirian adalah upaya melepaskan jerat ketertindasan?. Bisa jadi ruang kosong itu adalah upaya mengilhami pembacaan menuju pembebasan, dan Tuhan adalah aksi itu sendiri, Yang Maha Menggerakkan.
***
Cikarang, 9 Desember 2010

Judul : Mata Yola
Penulis: Yoyong Amilin
ISBN 978-602-98738-5-6

Silakan pesan ke inbox fb hasfapublisher atau sms 081914032201